Kriiiiing….
Sayup-sayup terdengar suara handphone di saku celana berbunyi, di tengah ramainya lalu lintas jalan hari ini, di bawah terik matahari yang setiap hari menemani hari-hariku. Perlahan motorku menepi, di bawah sebuah pohon rindang yang sedikit menghalangi sinar matahari menyentuh kulitku, agak sejuk rasanya…
Pak Mukhlis: “Assalamu’alaikum Pak”
Aku: “’alaikumsalam warohmatullah”
Pak Mukhlis: “Saya Pak Mukhlis, saya mau pesan obat untuk istri saya, kita ketemuan di lobby Rumah Sakit sore ini ya Pak”
Aku: “Baik pak, akan saya siapkan, insya Allah
Pak Mukhlis: “Terima kasih Pak. Assalamu’alaikum”
Aku: “Sama-sama Pak. ’alaikumsalaam warohmatullah”
Istri Pak Mukhlis sedang mengandung 6 bulan dan mengidap sebuah penyakit yang mengharuskan dia mengkonsumsi obat yang harus disuntikkan sore itu di sebuah Rumah Sakit di ibukota. Aku segera melanjutkan perjalanan mengantar sejumlah obat yang sudah dipesan dan segera ke kantor untuk menyiapkan obat yang dipesan Pak Mukhlis agar sampai di Rumah Sakit sesuai waktu yang dijanjikan.
Aku: “Assalamu’alaikum Pak Mukhlis”
Pak Mukhlis: “’alaikumsalam warohmatullah”
Aku: “Saya sudah sampai di lobby Rumah Sakit, posisi bapak dimana?”
Pak Mukhlis: “Saya ada di ruang rawat inap, sedang menjaga istri saya, sebentar saya turun”
Aku: “Baik pak, saya tunggu”
Tidak lama kemudian handphone berbunyi, ternyata Pak Mukhlis yang menelepon sambil mencari-cariku, sambil menjawab telepon aku lambaikan tangan sebagai tanda bahwa akulah orang yang Pak Mukhlis cari. Pak Mukhlis berjalan ke arah yang aku isyaratkan.
Pak Mukhlis: “Mohon maaf sudah membuat bapak menunggu”
Aku: “Tidak apa-apa Pak, ini sudah menjadi bagian dari tugas saya”
Pak Mukhlis: “Mohon doanya ya Pak, supaya istri saya bisa melahirkan sesuai dengan waktunya dan tidak mengalami gangguan pada saat proses persalinan”
Aku: “Iya pak, semoga Allah SWT memberi kesehatan dan kemudahan dalam proses persalinan istri bapak. Insya Allah, Aamiin”
Pak Mukhlis: “Aamiin, terima kasih atas doanya Pak”
Aku: “Ini obatnya pak dan ini kuitansinya, semoga bapak diberi kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi masalah ini”
Pak Mukhlis: “Saya terima obat dan kuitansinya. Terima kasih Pak”
Aku: “Assalamu’alaikum Pak”
Pak Mukhlis: “’alaikumsalam warohmatullah”
Aku melangkahkan kaki sampai tak terasa sudah jauh meninggalkan Pak Mukhlis. Aku jadi teringat istriku saat akan melahirkan kedua buah hati kami, saat itu memang saat-saat yang mendebarkan menanti kelahiran buah hati kami, rasa senang dan khawatir campur aduk menjadi satu. Pada saat melahirkan anak pertama, istriku mengalami pendarahan sehingga 5 jam setelah persalinan baru pindah ke kamar perawatan, sedangkan pada saat melahirkan anak kedua, selaput ari-ari sempat tertinggal, Alhamdulillah kedua buah hati kami lahir dengan selamat dan sehat. Lamunanku buyar ketika kusadari aku sudah berada di parkiran motor, dan kulanjutkan perjalanan pulang ke rumah, tak sabar rasanya ingin segera bertemu dengan istri dan memeluk kedua buah hatiku. Dalam hati, aku hanya bisa berdoa, semoga Allah memberi yang terbaik untuk Pak Mukhlis.
Januari 2012
Tiga bulan berlalu sejak pertemuanku dengan Pak Mukhlis di Rumah Sakit itu. Bulan ini seharusnya Pak Mukhlis menghubungiku kembali untuk membeli obat yang akan dipakai sebelum istrinya melahirkan. Tidak lama kemudian handphone berbunyi memecah keheningan suasana pagi di kantor:
Pak Mukhlis: “Assalamu’alaikum Pak”
Aku: “’alaikumsalam warohmatullah”
Pak Mukhlis: “Saya Pak Mukhlis, mau pesan obat untuk besok siang bisa pak? Kita bertemu di Rumah Sakit ya pak, mengenai waktunya saya informasikan besok pagi”
Aku: “Baik pak, saya tunggu kabar dari bapak besok”
Pak Mukhlis: “Terima kasih Pak. Assalamu’alaikum”
Aku: “Sama-sama Pak. 'alaikumsalam warohmatullah”
Pada pagi keesokan hari yang dijanjikan, aku masih menunggu kabar dari Pak Mukhlis, tidak ada sms ataupun telepon masuk. Aku dan teman bagian administrasi sempat menduga-duga apa Pak Mukhlis tidak jadi pesan obat karena sampai saat in belum ada kabar. Akhirnya aku putuskan untuk menghubungi Pak Mukhlis, begitu terhubung yang menjawab adalah seorang perempuan:
Aku: “Assalamu’alaikum, bisa bicara dengan Pak Mukhlis”
Penerima: “’alaikumsalam warohmatullah, maaf bapaknya sedang memandikan anaknya, apa ada pesan?”
Aku: “Tolong sampaikan ke bapak apakah siang ini jadi pesan obat dan bertemu dengan saya di Rumah Sakit?”
Penerima: “Baik pak, akan saya sampaikan”
Aku: “Terima kasih bu, Assalamu’alaikum”
Penerima: “Sama-sama Pak. ’alaikumusalam warohmatullah”
Siang hari, setengah jam sebelum waktu yang dijanjikan aku sudah sampai di Rumah Sakit karena aku tahu bahwa obat yang dipesan akan dipakai hari itu, jadi aku tak ingin terlambat, kasihan Pak Mukhlis kalau sampai aku terlambat.
Tepat pada waktu yang dijanjikan, aku belum melihat Pak Mukhlis di ruangan itu. Aku menghubungi Pak Mukhlis memberitahukan bahwa aku sudah berada di tempat yang dijanjikan. Ternyata Pak Mukhlis lupa dan menyampaikan permohonan maafnya padaku dan beliau segera bergegas ke Rumah Sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit, aku melihat wajah Pak Mukhlis begitu lusuh dan terlihat lelah, seperti sedang menanggung beban yang teramat berat. Dengan tergopoh-gopoh beliau menghampiri dan berbicara dengan suara terbata-bata:
Pak Mukhlis: “Assalamu’alaikum Pak”
Aku: “’alaikumsalam warohmatullah”
Pak Mukhlis: “Mohon maaf saya terlambat, karena harus menyelesaikan urusan di rumah”
Aku: “Iya pak, saya maklumi, Pak Mukhlis pasti sibuk, tadi pagi saya menghubungi Pak Mukhlis sedang memandikan anak bapak dan menyiapkan segala sesuatunya untuk dibawa ke Rumah Sakit ini. Bagaimana kondisi istri Pak Mukhlis? Kapan persalinannya?”
Pak Mukhlis tidak langsung menjawab pertanyaanku, beliau sedikit tertunduk. Aku mengajak Pak Mukhlis untuk duduk. Beliau terdiam sejenak, kemudian menghela nafas panjang dan bercerita: “Istri saya Alhamdulillah sehat pak, tetapi Allah berkehendak lain untuk buah hati kami”, Pak Mukhlis menghela nafas kembali, kemudian melanjutkan cerita: “Buah hati kami telah menghadap Allah SWT dalam usia kehamilan 38 minggu. Pada saat bapak telepon tadi pagi, saya sedang memandikan jenazah buah hati kami. Ini bukan yang pertama kali terjadi pada saya pak”, kulihat Pak Mukhlis mencoba menguatkan dirinya agar air matanya tidak jatuh di hadapanku. “Ini adalah peristiwa ke-3 yang kami alami secara berulang, anak pertama kami meninggal dunia saat usia kandungan 32 minggu, begitu pula dengan anak kedua kami, meninggal dunia saat usia kandungan 36 minggu akibat penyakit yang diderita istri saya. Saat usia kehamilan ketiga melewati minggu ke-36 saya merasa senang dan berharap Allah memberi kami momongan yang kami idam-idamkan. Saya berusaha sekuat tenaga untuk menjaga istri saya dan sering konsultasi dengan dokter. Pada minggu ke-38 ketika kontrol ke dokter, alangkah hancur hati saya pak, lebih sakit dari teriris sembilu, begitu mengetahui bahwa ternyata anak ke-3 kami tidak bisa bertahan dan harus menyusul kedua kakaknya…” Pak Mukhlis agak memalingkan wajahnya, walau disembunyikan aku bisa merasakan bagaimana perasaan beliau saat ini.
Aku tak ingin luka Pak Mukhlis terkuak kembali, dengan berat hati aku segera melakukan transaksi dan mencoba menyampaikan rasa duka cita sedalam-dalamnya kepada Pak Mukhlis. “Bersabarlah Pak Mukhlis, Allah punya rencana indah untuk Pak Mukhlis dan istri”. Aku mohon diri sambil menjabat tangan dan memeluk Pak Mukhlis yang masih terdiam dan tertunduk, lalu berlalu dari hadapan Pak Mukhlis tanpa bisa berkata-kata…
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS Ar Rahman)
—
Citayam-Depok, Maret 2012
tinta.haniraheem
Welcome to Haniraheem's Blog
Penghayatan Rasaku Ini
Aku berkhianat lagi
dalam tingkah berurai dosa
berharap Engkau lengah
atau sesaat terlupa
dalam tingkah berurai dosa
berharap Engkau lengah
atau sesaat terlupa
Keliru!
karena tak mungkin Engkau terlena
karena tak mungkin Engkau terlena
Bagaimana ini?
Lagi-lagi tertangkap basah saat mendua
Lagi-lagi tertangkap basah saat mendua
Duhai Penguasa
Aku masih menyimpan cinta
tak ingin ‘melukai’Mu
Aku masih menyimpan cinta
tak ingin ‘melukai’Mu
keliru lagi!
Sesungguhnya justru aku terluka
karena mengkhianatiMu
sayatan luka pada hatiku
Sesungguhnya justru aku terluka
karena mengkhianatiMu
sayatan luka pada hatiku
Citayam-Depok, Maret 2012
Antara Aku,Kamu & NYA
Aku padamu jika kau pada-NYA
Jika kau tak pada-NYA, maka tak mudah bagiku padamu
Jika kau ingin aku padamu maka mendekatlah padaNYA
Bukan mendekat langsung padaku
Karena DIA lah yang memegang hatiku.
Aku mungkin bisa tanpa kau
Tapi aku tak bisa tanpaNYA.
Jika kau tak pada-NYA, maka tak mudah bagiku padamu
Jika kau ingin aku padamu maka mendekatlah padaNYA
Bukan mendekat langsung padaku
Karena DIA lah yang memegang hatiku.
Aku mungkin bisa tanpa kau
Tapi aku tak bisa tanpaNYA.
Aku, kamu, dan NYA
Bukan rupa yang kan membuatku padamu
Bukan harta yang kan membuatku silau padamu
Bukan pula tahta yang kulihat darimu
Bukan rupa yang kan membuatku padamu
Bukan harta yang kan membuatku silau padamu
Bukan pula tahta yang kulihat darimu
Rupa kan layu seiring bertambahnya usia
Harta bisa habis kapan saja
Tahta bukanlah segalanya
Harta bisa habis kapan saja
Tahta bukanlah segalanya
Aku padamu jika kau dapat membuatku dekat denganNYA
Aku padamu, yang dengan memandangmu membuatku ingat padaNYA
Aku padamu, yang dengan memandangmu membuatku ingat padaNYA
Aku kan melihatmu karenaNYA
Jika DIA ada dalam hatimu, maka aku padamu
Jika DIA ada dalam hatimu, maka aku padamu
Citayam-Depok , maret 2012
KISAH SABAR YANG PALING MENGAGUMKAN
Akhwatmuslimah.com – Prof. Dr. Khalid al-Jubair penasehat spesialis bedah jantung dan urat nadi di rumah sakit al-Malik Khalid di Riyadh mengisahkan sebuah kisah pada sebuah seminar dengan tajuk Asbab Mansiah (Sebab-Sebab Yang Terlupakan). Mari sejenak kita merenung bersama, karena dalam kisah tersebut ada nasihat dan pelajaran yang sangat berharga bagi kita.
Satu setengah tahun setelah anak tersebut keluar dari rumah sakit, salah seorang kawan di bagian operasi mengabarkan kepadaku bahwa ada seorang laki-laki berserta istri bersama dua orang anak ingin melihat anda. Maka kukatakan kepadanya:“Siapakah mereka?” Dia menjawab,“Tidak mengenal mereka.”
Sang dokter berkata:
Pada suatu hari -hari Selasa- aku melakukan operasi pada seorang anak berusia 2,5 tahun. Pada hari Rabu, anak tersebut berada di ruang ICU dalam keadaan segar dan sehat.
Pada hari Kamis pukul 11:15 -aku tidak melupakan waktu ini karena pentingnya kejadian tersebut- tiba-tiba salah seorang perawat mengabariku bahwa jantung dan pernafasan anak tersebut berhenti bekerja. Maka akupun pergi dengan cepat kepada anak tersebut, kemudian aku lakukan proses kejut jantung yang berlangsung selama 45 menit. Selama itu jantungnya tidak berfungsi, namun setelah itu Allah Subhanaahu wa Ta`ala menentukan agar jantungnya kembali berfungsi. Kamipun memuji Allah Subhanaahu wa Ta`ala .
Kemudian aku pergi untuk mengabarkan keadaannya kepada keluarganya, sebagaimana anda ketahui betapa sulit mengabarkan keadaan kepada keluarganya jika ternyata keadaannya buruk. Ini adalah hal tersulit yang harus dihadapi oleh seorang dokter. Akan tetapi ini adalah sebuah keharusan. Akupun bertanya tentang ayah si anak, tapi aku tidak mendapatinya. Aku hanya mendapati ibunya, lalu aku katakan kepadanya: “Penyebab berhentinya jantung putramu dari fungsinya adalah akibat pendarahan yang ada pada pangkal tenggorokan dan kami tidak mengetahui penyebabnya. Aku kira otaknya telah mati.”
Coba tebak, kira-kira apa jawaban ibu tersebut?Apakah dia berteriak? Apakah dia histeris? Apakah dia berkata: “Engkaulah penyebabnya!”Dia tidak berbicara apapun dari semua itu bahkan dia berkata:“Alhamdulillah.” Kemudian dia meninggalkanku dan pergi.
Sepuluh hari berlalu, mulailah sang anak bergerak-gerak. Kamipun memuji Allah Subhanaahu wa Ta`ala serta menyampaikan kabar gembira sebuah kebaikan yaitu bahwa keadaan otaknya telah berfungsi.
Pada hari ke-12, jantungnya kembali berhenti bekerja disebabkan oleh pendarahan tersebut. Kami pun melakukan proses kejut jantung selama 45 menit, dan jantungnya tidak bergerak. Maka akupun mengatakan kepada ibunya:“Kali ini menurutku tidak ada harapan lagi.” Maka dia berkata:“Alhamdulillah, ya Allah jika dalam kesembuhannya ada kebaikan, maka sembuhkanlah dia wahai Rabbi.”
Maka dengan memuji Allah, jantungnya kembali berfungsi, akan tetapi setelah itu jantung kembali berhenti sampai 6 kali hingga dengan ketentuan Allah Subhanaahu wa Ta`ala spesialis THT berhasil menghentikan pendarahan tersebut, dan jantungnya kembali berfungsi.
Berlalulah sekarang 3,5 bulan, dan anak tersebut dalam keadaan koma, tidak bergerak. Kemudian setiap kali dia mulai bergerak dia terkena semacam pembengkakan bernanah aneh yang besar di kepalanya, yang aku belum pernah melihat semisalnya. Maka kami katakan kepada sang ibu bahwa putra anda akan meninggal. Jika dia bisa selamat dari kegagalan jantung yang berulang-ulang, maka dia tidak akan bisa selamat dengan adanya semacam pembengkakan di kepalanya. Maka sang ibu berkata:“Alhamdilillah.” Kemudian meninggalkanku dan pergi. Setelah itu, kami melakukan usaha untuk merubah keadaan segera dengan melakukan operasi otak dan urat syaraf serta berusaha untuk menyembuhkan sang anak. Tiga minggu kemudian, dengan karunia Allah Subhanaahu wa Ta`ala , dia tersembuhkan dari pembengkakan tersebut, akan tetapi dia belum bergerak.
Dua minggu kemudian, darahnya terkena racun aneh yang menjadikan suhunya 41,2oC. maka kukatakan kepada sang ibu:“Sesungguhnya otak putra ibu berada dalam bahaya besar, saya kira tidak ada harapan sembuh.” Maka dia berkata dengan penuh kesabaran dan keyakinan:“Alhamdulillah, ya Allah, jika pada kesembuhannya terdapat kebaikan, maka sembuhkanlah dia.”
Setelah aku kabarkan kepada ibu anak tersebut tentang keadaan putranya yang terbaring di atas ranjang nomor 5, aku pergi ke pasien lain yang terbaring di ranjang nomor 6 untuk menganalisanya. Tiba-tiba ibu pasien nomor 6 tersebut menagis histeris seraya berkata:“Wahai dokter, kemari, wahai dokter suhu badannya 37,6o, dia akan mati, dia akan mati.” Maka kukatakan kepadanya dengan penuh heran:“Lihatlah ibu anak yang terbaring di ranjang no 5, suhu badannya 41o lebih sementara dia bersabar dan memuji Allah.” Maka berkatalah ibu pasien no. 6 tentang ibu tersebut:“Wanita itu tidak waras dan tidak sadar.”
Maka aku mengingat sebuah hadits Rasulullah Sholallohu `alaihi wa sallam yang indah lagi agung:(طُوْبَى لِلْغُرَبَاِء)“Beruntunglah orang-orang yang asing.” Sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata, akan tetapi keduanya menggoncangkan ummat. Selama 23 tahun bekerja di rumah sakit aku belum pernah melihat dalam hidupku orang sabar seperti ibu ini kecuali dua orang saja.
Selang beberapa waktu setelah itu ia mengalami gagal ginjal, maka kami katakan kepada sang ibu:“Tidak ada harapan kali ini, dia tidak akan selamat.” Maka dia menjawab dengan sabar dan bertawakkal kepada Allah:“Alhamdulillah.” Seraya meninggalkanku seperti biasa dan pergi.
Sekarang kami memasuki minggu terakhir dari bulan keempat, dan anak tersebut telah tersembuhkan dari keracunan. Kemudian saat memasuki pada bulan kelima, dia terserang penyakit aneh yang aku belum pernah melihatnya selama hidupku, radang ganas pada selaput pembungkus jantung di sekitar dada yang mencakup tulang-tulang dada dan seluruh daerah di sekitarnya. Dimana keadaan ini memaksaku untuk membuka dadanya dan terpaksa menjadikan jantungnya dalam keadaan terbuka. Sekiranya kami mengganti alat bantu, anda akan melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda..
Saat kondisi anak tersebut sampai pada tingkatan ini aku berkata kepada sang ibu:“Sudah, yang ini tidak mungkin disembuhkan lagi, aku tidak berharap. Keadaannya semakin gawat.” Diapun berkata:“Alhamdulillah.” Sebagaimana kebiasaannya, tanpa berkata apapun selainnya
Kemudian berlalulah 6,5 bulan, anak tersebut keluar dari ruang operasi dalam keadaan tidak berbicara, melihat, mendengar, bergerak dan tertawa. Sementara dadanya dalam keadaan terbuka yang memungkinkan bagi anda untuk melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda, dan ibunyalah yang membantu mengganti alat-alat bantu di jantung putranya dengan penuh sabar dan berharap pahala.
Apakah anda tahu apa yang terjadi setelah itu?
Sebelum kukabarkan kepada anda, apakah yang anda kira dari keselamatan anak tersebut yang telah melalui segala macam ujian berat, hal gawat, rasa sakit dan beberapa penyakit yang aneh dan kompleks? Menurut anda kira-kira apa yang akan dilakukan oleh sang ibu yang sabar terhadap sang putra di hadapannya yang berada di ambang kubur itu? Kondisi yang dia tidak punya kuasa apa-apa kecuali hanya berdo’a, dan merendahkan diri kepada Allah Subhanaahu wa Ta`ala ?
Tahukah anda apa yang terjadi terhadap anak yang mungkin bagi anda untuk melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda 2,5 bulan kemudian?
Anak tersebut telah sembuh sempurna dengan rahmat Allah Subhanaahu wa Ta`ala sebagai balasan bagi sang ibu yang shalihah tersebut. Sekarang anak tersebut telah berlari dan dapat menyalip ibunya dengan kedua kakinya, seakan-akan tidak ada sesuatupun yang pernah menimpanya. Dia telah kembali seperti sedia kala, dalam keadaan sembuh dan sehat.
Anak tersebut telah sembuh sempurna dengan rahmat Allah Subhanaahu wa Ta`ala sebagai balasan bagi sang ibu yang shalihah tersebut. Sekarang anak tersebut telah berlari dan dapat menyalip ibunya dengan kedua kakinya, seakan-akan tidak ada sesuatupun yang pernah menimpanya. Dia telah kembali seperti sedia kala, dalam keadaan sembuh dan sehat.
Kisah ini tidaklah berhenti sampai di sini, apa yang membuatku menangis bukanlah ini, yang membuatku menangis adalah apa yang terjadi kemudian:
Satu setengah tahun setelah anak tersebut keluar dari rumah sakit, salah seorang kawan di bagian operasi mengabarkan kepadaku bahwa ada seorang laki-laki berserta istri bersama dua orang anak ingin melihat anda. Maka kukatakan kepadanya:“Siapakah mereka?” Dia menjawab,“Tidak mengenal mereka.”
Akupun pergi untuk melihat mereka, ternyata mereka adalah ayah dan ibu dari anak yang dulu kami operasi. Umurnya sekarang 5 tahun seperti bunga dalam keadaan sehat, seakan-akan tidak pernah terkena apapun, dan juga bersama mereka seorang bayi berumur 4 bulan.
Aku menyambut mereka, dan bertanya kepada sang ayah dengan canda tentang bayi baru yang digendong oleh ibunya, apakah dia anak yang ke-13 atau 14? Diapun melihat kepadaku dengan senyuman aneh, kemudian dia berkata:“Ini adalah anak yang kedua, sedang anak pertama adalah anak yang dulu anda operasi, dia adalah anak pertama yang datang kepada kami setelah 17 tahun mandul. Setelah kami diberi rizki dengannya, dia tertimpa penyakit seperti yang telah anda ketahui sendiri.”
Aku tidak mampu menguasai jiwaku, kedua mataku penuh dengan air mata. Tanpa sadar aku menyeret laki-laki tersebut dengan tangannya kemudian aku masukkan ke dalam ruanganku dan bertanya tentang istrinya. Kukatakan kepadanya:“Siapakah istrimu yang mampu bersabar dengan penuh kesabaran atas putranya yang baru datang setelah 17 tahun mandul? Haruslah hatinya bukan hati yang gersang, bahkan hati yang subur dengan keimanan terhadap Allah Subhanaahu wa Ta`ala.”
Tahukah anda apa yang dia katakan?
Diamlah bersamaku wahai saudara-saudariku, terutama kepada anda wahai saudari-saudari yang mulia, cukuplah anda bisa berbangga pada zaman ini ada seorang wanita muslimah yang seperti dia.
Sang suami berkata:“Aku menikahi wanita tersebut 19 tahun yang lalu, sejak masa itu dia tidak pernah meninggalkan shalat malam kecuali dengan udzur syar’i. Aku tidak pernah menyaksikannya berghibah (menggunjing), namimah (adu domba), tidak juga dusta. Jika aku keluar dari rumah atau aku pulang ke rumah, dia membukakan pintu untukku, mendo’akanku, menyambutku, serta melakukan tugas-tugasnya dengan segenap kecintaan, tanggung jawab, akhlak dan kasih sayang.”
Sang suami menyempurnakan ceritanya dengan berkata:
“Wahai dokter, dengan segenap akhlak dan kasih sayang yang dia berikan kepadaku, aku tidak mampu untuk membuka satu mataku terhadapnya karena malu.” Maka kukatakan kepadanya: “Wanita seperti dia berhak mendapatkan perlakuan darimu seperti itu.” Kisah selesai.
Kukatakan:
Saudara-saudariku, kadang anda terheran-heran dengan kisah tersebut, yaitu terheran-heran terhadap kesabaran wanita tersebut, akan tetapi ketahuilah bahwa beriman kepada Allah Subhanaahu wa Ta`ala dengan segenap keimanan dan tawakkal kepada-Nya dengan sepenuhnya, serta beramal shalih adalah perkara yang mengokohkan seorang muslim saat dalam kesusahan, dan ujian. Kesabaran yang demikian adalah sebuah taufik dan rahmat dari Allah Subhanaahu wa Ta`ala .
Allah Subhanaahu wa Ta`ala berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (١٥٥)الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (١٥٦)أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (١٥٧)
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ` bersabda:
مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَحُزْنٍ وَلاَ أَذىً وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا خَطاَيَاهُ
“Tidaklah menimpa seorang muslim dari keletihan, sakit, kecemasan, kesedihan tidak juga gangguan dan kesusahan, hingga duri yang menusuknya, kecuali dengannya Allah Subhanaahu wa Ta`ala akan menghapus kesalahan-kesalahannya.” (HR. al-Bukhari (5/2137))
Maka, wahai saudara-saudariku, mintalah pertolongan kepada Allah Subhanaahu wa Ta`ala , minta dan berdo’alah hanya kepada Allah Subhanaahu wa Ta`ala terhadap berbagai kebutuhan anda sekalian.
Bersandarlah kepada-Nya dalam keadaan senang dan susah. Sesungguhnya Dia Subhanaahu wa Ta`ala adalah sebaik-baik pelindung dan penolong.
Mudah-mudahan Allah Subhanaahu wa Ta`ala membalas anda sekalian dengan kebaikan, serta janganlah melupakan kami dari do’a-do’a kalian.
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ (١٢٦)
“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).” (QS. Al-A’raf: 126) .
(Sumber: Majalah Qiblati )
Orang-orang Yang Dido’akan Para Malaikat
Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci”.
(Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)
Belajar Mencintai Seseorang Yang Tidak Sempurna Dgn Cara Yg Sempurna
Ketika kita bertemu dengan orang yang tepat untuk dicintai,
Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat,
Itulah kesempatan
Ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik, Itu bukan pilihan ,
itu kesempatan.
Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan ,
Itupun adaah kesempatan .
Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut,
Bahkan dengan segala kekurangannya,
Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan.
Ketika kita memilih
Kepingan Yang Terlantar
Sebagai seorang pemuda, proses pencarian jati diri ini tidak akan paripurna sebelum kita merasa puas dengan konsep diri yang kita miliki. Ibarat menyusun kepingan puzzle yang berserakan, kita masih enggan untuk berhenti ketika kepingan itu belum tersusun rapi dan sempurna. Sesulit apapun perkiraannya, kita tidak peduli. Keinginan untuk segera melihat wujud di balik kepingan puzzle yang kini masih teracak tak berbentuk, bisa mengalahkan segalanya.
Mengasa KeMandirian Wanita
Rina masih dalam masa berkabung. Ayahnya baru saja meninggal karena serangan jantung, sedangkan ibunya sudah 4 tahun yang lalu dipanggil Allah.
Kematian sang ayah membuatnya terpukul, mengingat ayah Rina adalah tulang punggung keluarga dan satu-satunya sumber pencari nafkah.
Kini label tulang punggung keluarga itu berpindah pada dirinya, karena masih ada dua adiknya yang duduk di bangku SMP dan adik bungsunya di SD. Ia harus berpikir keras bagaimana ia bisa menghidupi kedua adiknya, sedangkan ia baru diwisuda dan belum mendapatkan pekerjaan.
~::*Janji Allah Bagi Anda yang Akan Menikah*::~
Ketika seorang muslim baik pria atau wanita akan menikah, biasanya akan timbul perasaan yang bermacam-macam. Ada rasa gundah, resah, risau, bimbang, termasuk juga tidak sabar menunggu datangnya sang pendamping, dll. Bahkan ketika dalam proses taaruf sekalipun masih ada juga perasaan keraguan.
Berikut ini sekelumit apa yang bisa saya hadirkan kepada pembaca agar dapat meredam perasaan negatif dan semoga mendatangkan optimisme dalam mencari teman hidup. Semoga bermanfaat buat saya pribadi dan kaum muslimin semuanya. Saya memohon kepada Allah semoga usaha saya ini mendatangkan pahala yang tiada putus bagi saya.
Inilah kabar gembira berupa janji Allah bagi orang yang akan menikah. Bergembiralah wahai saudaraku...
1. "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula),dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)". (An Nuur : 26)
Bila ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka perbaikilah diri. Hiduplah sesuai ajaran Islam dan Sunnah Nabi-Nya. Jadilah laki-laki yang sholeh, jadilah wanita yang sholehah. Semoga Allah memberikan hanya yang baik buat kita. Amin.
2. "Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui". (An Nuur: 32)
Sebagian para pemuda ada yang merasa bingung dan bimbang ketika akan menikah. Salah satu sebabnya adalah karena belum punya pekerjaan. Dan anehnya ketika para pemuda telah mempunyai pekerjaan pun tetap ada perasaan bimbang juga. Sebagian mereka tetap ragu dengan besaran rupiah yang mereka dapatkan dari gajinya. Dalam pikiran mereka terbesit, "apa cukup untuk berkeluarga dengan gaji sekian?".
Ayat tersebut merupakan jawaban buat mereka yang ragu untuk melangkah ke jenjang pernikahan karena alasan ekonomi. Yang perlu ditekankan kepada para pemuda dalam masalah ini adalah kesanggupan untuk memberi nafkah, dan terus bekerja mencari nafkah memenuhi kebutuhan keluarga. Bukan besaran rupiah yang sekarang mereka dapatkan. Nantinya Allah akan menolong mereka yang menikah. Allah Maha Adil, bila tanggung jawab para pemuda bertambah - dengan kewajiban menafkahi istri-istri dan anak-anaknya - maka Allah akan memberikan rejeki yang lebih. Tidakkah kita lihat kenyataan di masyarakat, banyak mereka yang semula miskin tidak punya apa-apa ketika menikah, kemudian Allah memberinya rejeki yang berlimpah dan mencukupkan kebutuhannya?
3. "Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya". (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)
Bagi siapa saja yang menikah dengan niat menjaga kesucian dirinya, maka berhak mendapatkan pertolongan dari Allah berdasarkan penegasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini. Dan pertolongan Allah itu pasti datang.
4. "Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir". (Ar Ruum : 21)
5. "Dan Tuhanmu berfirman : ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina' ". (Al Mu'min : 60)
Ini juga janji Allah ‘Azza wa Jalla, bila kita berdoa kepada Allah niscaya akan diperkenankan-Nya. Termasuk di dalamnya ketika kita berdoa memohon diberikan pendamping hidup yang agamanya baik, cantik, penurut, dst.
Dalam berdoa perhatikan adab dan sebab terkabulnya doa. Diantaranya adalah ikhlash, bersungguh-sungguh, merendahkan diri, menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, dll.
Perhatikan juga waktu-waktu yang mustajab dalam berdoa. Diantaranya adalah berdoa pada waktu sepertiga malam yang terakhir dimana Allah ‘Azza wa Jalla turun ke langit dunia, pada waktu antara adzan dan iqamah, pada waktu turun hujan, dll.
Perhatikan juga penghalang terkabulnya doa. Diantaranya adalah makan dan minum dari yang haram, juga makan, minum dan berpakaian dari usaha yang haram, melakukan apa yang diharamkan Allah, dll.
Manfaat lain dari berdoa berarti kita meyakini keberadaan Allah, mengakui bahwa Allah itu tempat meminta, mengakui bahwa Allah Maha Kaya, mengakui bahwa Allah Maha Mendengar, dst.
Sebagian orang ketika jodohnya tidak kunjung datang maka mereka pergi ke dukun-dukun berharap agar jodohnya lancar. Sebagian orang ada juga yang menggunakan guna-guna. Cara-cara seperti ini jelas dilarang oleh Islam. Perhatikan hadits-hadits berikut yang merupakan peringatan keras dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
"Barang siapa yang mendatangi peramal / dukun, lalu ia menanyakan sesuatu kepadanya, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh malam". (Hadits shahih riwayat Muslim (7/37) dan Ahmad).
Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Maka janganlah kamu mendatangi dukun-dukun itu." (Shahih riwayat Muslim juz 7 hal. 35).
Telah bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Sesungguhnya jampi-jampi (mantera) dan jimat-jimat dan guna-guna (pelet) itu adalah (hukumnya) syirik." (Hadits shahih riwayat Abu Dawud (no. 3883), Ibnu Majah (no. 3530), Ahmad dan Hakim).
6. "Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat". (Al Baqarah : 153)
Mintalah tolong kepada Allah dengan sabar dan shalat. Tentunya agar datang pertolongan Allah, maka kita juga harus bersabar sesuai dengan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga harus shalat sesuai Sunnahnya dan terbebas dari bid'ah-bid'ah.
7. "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan". (Alam Nasyrah : 5 - 6)
Ini juga janji Allah. Mungkin terasa bagi kita jodoh yang dinanti tidak kunjung datang. Segalanya terasa sulit. Tetapi kita harus tetap berbaik sangka kepada Allah dan yakinlah bahwa sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Allah sendiri yang menegaskan dua kali dalam Surat Alam Nasyrah.
8. "Hai orang-orang yang beriman jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu". (Muhammad : 7)
Agar Allah Tabaraka wa Ta'ala menolong kita, maka kita tolong agama Allah. Baik dengan berinfak di jalan-Nya, membantu penyebaran dakwah Islam dengan penyebaran buletin atau buku-buku Islam, membantu penyelenggaraan pengajian, dll. Dengan itu semoga Allah menolong kita.
9. "Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa". (Al Hajj : 40)
10. "Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat". (Al Baqarah : 214)
Itulah janji Allah. Dan Allah tidak akan menyalahi janjinya. Kalaupun Allah tidak / belum mengabulkan doa kita, tentu ada hikmah dan kasih sayang Allah yang lebih besar buat kita. Kita harus berbaik sangka kepada Allah. Inilah keyakinan yang harus ada pada setiap muslim.
Jadi, kenapa ragu dengan janji Allah?
Semoga Bermanfa'at
ƸӜƷ.¸¸¸.••..ƸӜƷ..••.¸¸¸. ƸӜƷ.
Do'a Dan Tangis ku
Airmataku mengalir tanpa tertahan
Mendengar tangis pilu makhluk di Palestina
Melihat darah dan nyawa tumpah berserakan
Terhajar oleh kemunafikan berdalih pembalasan
Anak-anak terhuyung terkapar dengan senyum keihklasan
Hatiku perih dadaku bergetar.... .....
Tanah dan debu bangunan luluh tercabik
Tiada tempat untuk melepas penat
Hanya langit tempat berteduh
Perempuan berlari terisak di Jalur Gaza
Entah apa yang ada di benaknya
Mungkin hilang anak atau saudaranya
Terus berlari beriring deru rudal Zionis
Melompat berlindung bahkan menjadi musykil
Hanya bersujud memegang keyakinan
Untuk sebuah cita-cita syuhada
Aku terbayang luka menyayat badan
Tapi apa dayaku....
Hanya berdoa untuk saudara-saudaraku
Menancapkan kalimat duka untuk surga syuhada-Mu
Jangan pernah berhenti untuk melawan kebathilan
Jangan menangis untuk melawan kezaliman
Dunia bukan hanya berdoa tapi berharap
Untuk tanah-tanah yang selalu merindukanmu. ....
Citayam-Depok, 14 April 2011 pukul 22:31 ·
++WAKTU++
Dan sampai saat ini aku masih tetap setia menanti,
Bukan kerna ketegaranku dalam bertahan namun kerna rahmat-Nya mengajarkan sabar..
Bukan kerna cintaku padamu namun kerna cintaku pada-Nya. Yang membuat aku tetap bertahan pada pendirianku ini..
Jika karna cinta… Sesungguhnya cinta itu sudah tak ada.
Yang ada pada diriku adalah imanku yang menuntunku agar selalu patuh padamu.
Kerna aku telah melupakanmu dalam kesendirianku.
Hadirmu dalam hidupku mengisahkan berjuta cerita.
Sudah kurasakan sakit
Sudah ku telan pahit
Walau belum pernah berbuah manis.
Namun aku bertahan..
Kerna kaulah orang yang telah membuka gerbang cahaya dari sisi gelapku.
Citayam-Depok, 14 Juni 2011 pukul 17:53 ·
:: UKHTI HEBAT ::
Jilbabnya lebar,panjang n tertutup rapi...
Senyumnya manis merangsang hati...
Kalau jalan...hanya bumi yang dilihat...
knpa....????
Uangnya jatuh yaa ukhti...?????
:: Eeeehhh...emang gk ngerti???
mereka begitu cz jaga hati sob...
Inginnya selalu berbuat lebih...
Kadang rapat tak kenal hari,
pilang malam pun tak peduli..
emang dasar si ukhti..
tak mau kalah untuk organisasi
apalagi dg da'wah ini....
kalian HEBAT UKHTI... !!!!
UKHTI...
Betapa banyak yang menyakiti...
Apa lagi dari kalangan lelaki...
banyak yang janji untuk meng"khitbahi"
eehhhh.... tamat kuliah gk datang2 lagi...
:: Tenang ukhti....
jodohmu sudah ada yang ngatur..
so jangan takut tak kebagian Ikhwan sejati...
Ukh...gaya bicaramu sangat indah...
sungguh lembut n terarah..
untuk da'wah yang tak kenal lelah ini...
Tapi ingat...harus tetap jaga izzah ukhti...
^_^
Citayam-Depok, 2 April 2011 pukul 19:38 ·
A.M.C (Air Mata Cinta)
yaa lagi2 hidup ini tak lepas dari kata Cinta & Air mata..
Indahnya bingkai Islam yang diturunkan Allah yang maha perkasa.
Walaupun ukurannya hanya berupa tetesan, tetapi begitu berharga dan bernlai besar disisiNYA.
Karena air mata cintalah yang mampu menembus kebekuan hati,bekunya jiwa,iri dan dengki.
Air mata karena kerinduan untuk berjumpa dengan yang dicintai.
Tangisan dan air mata karena cinta kepada kekasih Allah.
Bila ingin menangis, menangislah !
Tetapi bukan tangisan yang biasa, tanda kecengengan !
Tangislahi diri yang berlumur dengan pekanya dosa.
Menagislah dengan tangisan luar biasa, yang keluarx bukan karna keras atau derasnya.
Tetapi karena sebab atau alasan yang Agung.
yaa Cinta, benci, menangis karena Allah dan kekasihNYA sebagai alasan !
BUKAN selainnya !
SELAMAT MENANGIS DAN MENIKMATI !!!
Citayam-Depok, Maret 2011 pukul 17:09 ·
Ibu....Oh...Ibu...
Seorang ukhti Fillah berkisah :
Siang itu perutku serasa ada yang meninju-ninju. Tapi siang itu rasa tinjuan ada yang berbeda dibandingkan hari2 yg telah berlalu. Tinjuannya semakin intens,disertai rasa mulas2, seolah tanda keras akan datangnya waktu yg selama ini ku tunggu. Kelahiran anakku, yupzzzz..kelahiran anak pertamaku.. J
Tak berselang lama, suamiku langsung siap siaga, dan memang begitulah ia. Aku dilarikan menuju bidan yg selam ini memriksa keadaan kandunganku selama beberapa bulan sebelumnya.
Meski agak jauh dirasa, akhirnya sampai juga. Kebetulan sang bidan ada di tempat, bidanku ini sangat pandai menata ruangan, rumahnya ada didaerah pegunungan yg sejuk berlapis indahnya pemandangan, udaranya segar tanpa ada polusi yg berani berkeliaran diruangan tersebut, sungguh suasana yang sangat nyaman dan menentramamkan bagi aku yg sedang menanti proses kelahiran anak pertamaku.
Debar2 terus saja menghinggapi. Pemandangan yg elok nan asri tak sanggup memalingkan perasaan bahagia bercampur lara diraga ini.
Oh....akankah diriku sanggup menjalani detik2 paling menentukan akan kelahiran mujahid masa depan ini?????. Hingga yg kupertaruhkan pun tidak tanggung2, antar hidup dan mati.
*******(sensor melahirkan). Singkat cerita, lahirlah bayi laki2.
Ibu...alhamdulillahi wahdah, akhirnya aku jadi seorang ibu. Ibu dari anakku. Pahlawan terhebat bagi proses kelahiran yg sarat akan pilu.
Ibu....alhamdulillahi wahdah, akhirnya mimpi itu menjadi kenyataan yang sangat seru. Semua wanita tahu betul arti kata itu. Sebuah kenyataan yg menawarkan haru.
Barakallah fiik, ukhti fillah.
Oh..ibu.. Jadi teringat ibu. Pahlawan sejatiku, muara air mataku, penyejuk qolbu. Ibu....oh...Ibu..
Ibu adalah sebenar-benar nya keindahan dan kecantikkan, permata berharga yg senantiasa terpelihara.
Ibu adalah bunga yg wanginya menghiasi jiwa, bintang yg bersinar menerangi qolbu, selalu menawarkan kehangatan dan kerinduan, keindahan dan kedamaian, cinta dan kasih sayang, serta kelembutan dan keajaiban.
Sungguh amat pantas apabila ktika kita hendak berbuat baik, maka diurutkan yg pertama kali adalah ibu sampai urutan ke 3 dan barulah ayah.
Rasullah bersabda ketika ditanya tentang siap yg berhak ditemani dg baik.
“ibumu,kemudian ibumu,kemudian ibumu...........” (HR. Al-Bukhari dan muslim)
====Selesai,,,, bagi teman2 tinta.haniraheem semoga bermanfaat ya cerita diatas dan jangan lupa ambil ibroh didalamnya yaa.. ==== ^.^
Citayam-Depok,Februari 2012
Langganan:
Komentar (Atom)